Pemkab Sikka Gelar Rakor dan Evaluasi Terintegrasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tingkat Kabupaten Sikka

Admin SIKKA 10 Dec 2025 08:25:09 dibaca : 131 x

Pemkab Sikka Gelar Rakor dan Evaluasi Terintegrasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tingkat Kabupaten Sikka

Maumere_sikkakab.go.id,- Pemerintah Kabupaten Sikka menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi Terintegrasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tingkat Kabupaten Sikka Tahun 2024.

Kegiatan bertempat di Aula Camilian, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok pada, Rabu (10/12/2025).

Wakil Bupati Sikka Ir.Simon Subandi Supriadi dalam arahannya saat membuka kegiatan secara resmi beliau mengatakan bahwa saat ini, Pemerintah Kabupaten Sikka berkomitmen untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang tercermin dari berbagai upaya kesehatan yang berkesinambungan dan terintegrasi.

Dikatan Simon Subandi peran Hexahelix yang terdiri dari Pemerintah, Akademisi Pendidikan, Pelaku Usaha industri, Media, Komunitas, Masyarakat, dan Kelompok Adat dan Budaya menjadi sangat strategis dan potensial dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular, ungkap wabup Simon.

Lebih jauh ia membeberkan beberapa penyakit yang menjadi tren antara lain malaria. Tujuan penanggulangan malaria di Indonesia adalah untuk mencapai eliminasi paling lambat pada tahun 2030. Provinsi NTT merupakan daerah endemis malaria bersama provinsi Papua, Papua Barat dan Kalimantan Timur.

Tren kasus malaria Kabupaten Sikka mengalami fluktuatif. Kasus malaria indigenous fluktuatif dan adanya kasus import semakin memperberat yang berkembang menjadi kasus Indigenous tantangan mencapai Eliminasi pada tahun 20230.

Pada tahun 2024 terdapar 357 kasus malaria, dengan angka Annual Parasite Incidence (API) 1.12 per % yang penduduk artinya setiap 1000 penduduk Sikka terdapat 1-2 menderita Malaria, dan termasuk kategori endemis sedang, sedangkan Tahun 2025 terdapat 87 kasus Malaria terjadi penurunan kasus 2024 namun masih ditemukan kasus dibandingkan dengan tahun Indigenous di Puskesmas Tanarawa, Paga, dan Waigete.

Selanjutnya rabies, DBD, HIV dan Aids serta TBC. DBD menjadi masalah kesehatan yang sering kali menimbulkan kematian.

Kasus DBD juga masih cenderung fluktuatif dimana pada tahun 2023 terdapat 822 kasus tidak kematian, Tahun 2024 terdapat 820 terdapat 4 kasus kematian dan sampai dengan bulan November 2025 trend kasus DBD mengalami penurunan yaitu sebanyak 319 dan tidak kasus kematian namun perlu di lakukan tindakan pencegahan terutama sebelum musim penularan.

Kabupaten Sikka merupakan daerah endemis Rabies, sejak pertama kali ditemukan tahun 1998, beberapa kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

Tinggi kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan cakupan vaksinasi hewan penular yang rendah serta tingginya positif rate kasus rabies pada hewan, meningkatkan risiko penularan Rabies pada manusia.

Pada tahun 2023 Kabupaten Sikka kembali mengalami KLB. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) di tahun 2024 sebanyak 2993 kasus dengan 6 kematian akibat rabies.

Kasus Gigitan HPR Kondisi hingga Oktober sebanyak 1835 kasus dengan 1 kasus kematian (lyssa) pada Bulan Juli 2025 berasal dari Kecamatan Talibura.

Kondisi spesimen HPR yang positif Rabies Pada tahun 2024 terdapat 42 specimen positif dari 105 specimen yang diperiksa (40%).

Hingga November 2025 terdapat 66 specimen HPR positif rabies Yang tersebar di 14 Kecamatan pada 43 Desa pada Hingga saat ini KLB masih berlangsung dan membutuhkan kerja sama yang konsisten dari seluruh stacholder di Kabupaten Sikka.* (ALW)
Butuh bantuan?